The Power of First Sight

Posted: Desember 3, 2017 in Ceritaku

Musim kemarau tahun 2005..

Aku adalah salah satu dari siswa yg begitu suka dengan perkembangan olahraga sepakbola. Jadi aku tak pernah ketinggalan segala jenis berita mengenai sepakbola. Pada jamanku dahulu belumlah ada teknologi internet yg mudah diakses kapanpun dan dimanapun, seperti saat ini. Untuk memperoleh beberapa informasi hanya di dapatkan dari media televisi dan media cetak. Kids jaman biyen.

Waktu itu aku masih kelas 2 sekolah menengah pertama. Aku bersekolah di salah satu sekolah menengah di kotaku yg terletak sekitar 2km arah utara dari pusat kota. Dan aku punya kegiatan rutin tiap minggunya yaitu membeli tabloid sepakbola yaitu Soccer. Tak pernah sekalipun tiap minggunya aku melewatkan hal ini.

Sayangnya, toko tempat penjualan tabloid ini berjarak kurang lebih 1 km dari sekolahku berada. Jarak segitu tak pernah menyurutkan niatku untuk membelinya. Semasa smp aku tak pernah naik kendaraan sendiri. Jadi semua perjalananku kutempuh dengan jalan kaki dan naik angkot. Mandiri banget bukan.

Tidak kusangka hal tersebut malah mempertemukanku dengan hal yang mengesankan.

Cuaca begitu panas. Aku berjalan dibawah terik matahari. Terkadang aku ditemani Luqman sahabatku yg sama menggilai bola. Namun waktu itu aku berjalan sendiri sejauh satu kilometer dipenuhi keringat.

Sesampai di tempat aku membeli tabloid tersebut. Hatiku senang bukan main, karena itulah hobiku. Karena masih penasaran dengan berita yg ditampilkan, sengaja aku tak memasukan tabloidku dalam tas. Aku memegang dan terkadang kuhimpitkan pada tali tasku menuju sebuah pasar sayur tempat angkot mangkal. Sesekali sambil berjalan aku membuka tabloidku yang seharga Rp 3.500 tersebut.

Tepat di depan sekolah menengah pertama, aku menoleh dan tiba-tiba lengan kananku seperti tertahan membentur sesuatu. Tabloidku pun jatuh. Aku membungkuk mencoba mengambil tabloid dan beranjak berdiri bersiap meminta maaf. Namun pandanganku tertahan, lidahku kelu dan semua seperti seperti bergerak melambat.

Ceilah mirip di Ftv, tapi sayangnya ini sebuah kenyataan.

Di depanku nampak seorang siswi berparas cantik rambut sebahu tersenyum tertahan dengan seragam pramuka ber-badge tetangga  sekolahku.

Tak ada sedikitpun pembicaraan diantara kami. Dia pun segera berlalu dan aku yang gugup mencoba mengendalikan keadaan. Aku yang bermaksud meminta maaf.. tak pernah terjadi. Hanya sebuah senyuman dan nama depan yang kuingat.

Etika.

Aku pulang dengan rasa yang lebih dari hari biasanya. Selain karena berita Juve dan Milan yang terancam degradasi yang menjadikan Inter sebagai juara Serie A Italia, aku bertemu dengan gadis cantik jelita. Meski aku sadar bahwa kami tak akan mungkin bertemu lagi (gimana mau ketemu, ngajak ngobrol saja tak berani), namun hanya membayangkan hari itu saja sudah membuatku bahagia.

Terlalu lancang apabila menyebutkan hal itu cinta monyet, apalagi cinta pertama. Sudahlah, abaikan saja.

Hari berganti hari. Waktu beranjak pergi. Tak terasa berbulan bulan telah beralalu. Aku masih dengan aktivitas remaja kelas 2 smp. Bangun pagi, sarapan, naik angkot ke sekolah, belajar, main, tidur dan kembali seperti awal. Namun hari yang satu benar-benar berbeda.

Pagi itu aku nyegat angkot dan lewatlah salah satu angkot favorit anak-anak, Berlin. Seperti yg kuduga begitu masuk angkot, sudah dipenuhi anak-anak sekolah. Untung saja masih kedapatan tempat duduk, walau tentunya harus berdesakan. Setibanya di tetangga desa, dari kejauhan nampak seorang siswi dengan tangan memberi isyarat bahwa dia ingin naik angkot. Dia masuk dan duduk tepat di depan mukaku.

Serasa tersengat listrik dari Saluran Udara Tegangan Extra Tinggi di pagi hari. SUTET. Blarr blarr..

Gadis yang kutabrak beberapa bulan yang lalu duduk tepat di depanku. Setelah ku validasi nama yg tertera di dada kanannya, ternyata benar. Dia tidak mengingatku. Aku juga tak  pernah berani menyapa. Ya tuhan, sepanjang perjalanan di angkot aku hanya ternyum kecil sembari membuang jauh pandanganku ke jendela.

Tak berhenti sampai disitu, aku pun mulai mencari informasi tentang dia. Kebetulan sekali, aku punya banyak sekali teman yang tinggal di dekat rumahnya atau bahkan pernah bersekokah dengannya. Bahasa 2017nya Knowing Every Particular Object. KEPO. Ya aku kepoin dimana rumahnya, bagaimana di sekolah dan masih banyak lagi.

Bukannya makin antusias, cerita beberapa temanku malah makin menciutkan nyaliku. Entah saat itu aku berpikir bahwa aku sama sekali bukan apa apa jika dibandingkan dengan cowok yang dekat dengan gadis tersebut. Seperti pecahan asteroid yang mengorbit diantara orbit Jupiter dan Mars. Cemen banget sih ya masa remajaku saat itu hahahaha

Sejak saat itu aku tak pernah sekalipun bertemu lagi atau sekedar ‘say hai’. Namun dia masih ada di ruang kecil memoriku. Bagaimana senyumannya saat itu. Masih tersimpan rapi, mungkin sampai sekarang.

Semasa sekolah menengah atas, mulai marak teknologi internet. Salah satunya adalah media sosial Facebook. Sedikit iseng, aku memasukan namanya dalan kolom pencarian. Ternyata dia pun juga memiliki akun FB. Setelah kutambahkan sebagai teman, kami berteman sampai saat ini. Meskipun jarang sekali aku berkunjung ke akunnya sekedar melihat kabar terbaru dari dia.

Tahun berganti tahun. Hidup berjalan normal. Setelah menyelesaikan pendidikan Profesi Ners aku berangkat ke Surabaya, meski sebelumnya menghabiskan waktu 7 bulan di salah satu klinik daerah Magetan. Semua hal berjalan seperti biasa. Sampai pada tanggal 19 oktober, sahabat dekatku Dhika, mengirim pesan singkat untukku.

Subhanallah, ketemu lagi. Kok bisa ya?

Finally..

Aku adalah sedikit orang di dunia ini yg percaya magic pada pandangan pertama. The power of first sight. Seringkali aku tau apa bagaimana ending sebuah cerita nantinya saat aku bertemu dengan seseorang. Sudah kayak Alm. Mama Loren ya hahaha..

Tanpa ada pertemuan pertama tak akan ada pertemuan kedua ketiga dan selanjutnya. Semua berasal dari pertemuan singkat yang berlangsung sangatlah cepat.

Aku juga percaya bahwa ada satu perasaan indah yang hanya indah tersimpan di dalam hati kita. Meski kita tak kan lagi melihat dan memiliki seseorang tersebut, namun tetap hangat tak ada habisnya saat saat kita memikirkannya. Itulah anugerah dari tuhan untuk kita yang tak terdefinisi dan tak bisa dilukiskan sepenuhnya dalam bait bait puisi. Just like that.

Tak ada sedikitpun ada niatan tersembunyi dibalik tulisan ini, melainkan hanyalah berbagi sebuah kisah yang.. tidak begitu penting juga dan menarik untuk para pemirsa.

Mungkin itulah ending ceritaku yang bahkan telah mengarungi dimensi waktu selama belasan tahun. Aku bercerita. Apa cerita kalian?

NB: setulus hati mohon maaf apabila yang terkait tak berkenan atas tulisan ini.

Iklan

Catatan Tanpa Titik

Posted: Oktober 16, 2017 in Uncategorized

Aku kau pernah mendengar?

Orang yang mendaki gunung Everest

Saat pendakian pria itu jatuh dan mati

Dan seorang pria..

Berjalan diatas tali menara World Trade Center

..

Sebelumnya apa tak pernah bisa memahami 

Kenapa mereka melakukan hal semacam itu

Sampai ketika..

Aku bertemu denganmu

Saat kamu bertanya sebelumnya

Kenapa aku melakuan semua ini

Saat ini aku tahu jawabannya

Ketika kita mencintai sesuatu dengan sungguh-sungguh

Kita tidak butuh sebuah alasan

Cinta..

Yang membuat kita berani melakukan semua hal-hal bodoh itu

Dan kamu,

Adalah Gunung Everest ku

Kamu adalah sisi menara lain dari World Trade Center

Yang ingin ku seberangi dan sampai kesana

Segudang Cinta

Posted: September 24, 2017 in Uncategorized

Lirih gemercik hujan

Seiring hembusan angin yang
Membelaiku menyapa sepiku
Dan hanyutkan rasa ini

Kau tinggalkan aku
Sementara ku menggilaimu
Inginkan segudang cintamu
Sampai nanti desah akhir nafasku

Usah kau tangisi
Biarku sendiri
Nikmati pedihnya luka
Tanpamu dipelukanku

Hancur hati ini
Tak terbayangkan kau gadaikan
Cintamu pada semestinya
Kumiliki nikmat anugrah illahi

Sungguhku tak mampuMenepis bayangmu
Karena kuhanya bisa mencintaimu

BUKAN AJANG PAMER KESUKSESAN

Posted: Agustus 31, 2017 in Ceritaku

Gue selalu perhatiin, menjelang lebaran maupun lebaran qurban tingkat kriminalitas semakin meningkat. Perampokan, begal, curanmor, nikung pacar orang dll menjadi semakin brutal jumlahnya. Bahkan, rumah-rumah kosong yang ditinggalkan mudik pemiliknya pun pada jadi incaran maling. Itu semua beralasan. Banyak orang pengin terlihat sukses di mata teman maupun keluarganya di hari raya. Seakan-akan, hari lebaran bagi mereka adalah deadline untuk menunjukkan hasil kerja kerasnya. Gokil.

Gambar 1. Pasrah kalo besok diqurbanin


Ya, hari lebaran, di kampung gue biasanya dijadikan hari di mana para perantau menunjukkan pencapaian. Mereka biasanya beli motor baru, mobil baru, pasangan baru, baju baru, atau beli perhiasan untuk dibawa silaturahmi keliling kampung. Dengan harapan, mereka akan dianggap sukses oleh keluarga. Padahal, kalo ditarik maknanya, hari lebaran adalah hari kemenangan. Bukan kemenangan melawan kemiskinan sepanjang tahun. Memang hal itu tidak salah, yang salah adalah ketika haris memaksakan diri hanya agar terlihat sukses. Yang dampaknya adalah melakukan hal yang merugikan diri sendiri, maupun orang lain.

Kadang gue suka miris ngeliat ibu-ibu yang dandan heboh di hari lebaran. Memakai perhiasan emas dari pergelangan tangan sampai ke lengan. Untuk menunjukkan bahwa keluarganya sukses mengumpulkan harta. Padahal, itu sangat melenceng dari makna lebaran yang sebenarnya.

Tapi hal itu tidak berlaku di sebagian orang. Masih banyak orang yang berpikir, hari lebaran semua harus baru, semua harus mewah, semua harus wah. Mungkin orang-orang itu bukan merayakan lebaran, namun mencari kesempatan di hari lebaran untuk jadi ajang pameran. Mindset itu yang pengin banget gue hapus dari diri gue dan keluarga. Lebaran bukanlah momen untuk menunjukkan pencapaian. Lebaran bukanlah momen untuk membahagiakan orang tua. Lebaran bukanlah momen untuk berfoya-foya.

Lo mau bahagiain ortu dengan cara beli perhiasan untuk ibu? Kenapa nunggu lebaran? Lakukan setiap kali lo punya kesempatan dong. Apa ortu dulu juga nunggu anaknya laper dulu, baru dibeliin makan? Nggak kan? Lo mau menunjukkan pencapaian? Kenapa harus nunggu lebaran? Pencapaian nggak perlu ditunjukkan di hari raya. Tunjukkan dengan cara lo selalu care dan bisa mengurangi beban keluarga, setiap saat, itu baru pencapaian namanya. Lo mau berfoya-foya? Lakukan saja secukupnya, di saat otak lo lagi butuh dikendorin setelah melakukan tanggung jawab kerja. As I do, gue selalu komitmen ke diri sendiri, setiap abis ngelarin satu project, gue bakal liburan, mengendurkan pikiran. Nggak perlu nunggu lebaran.

Percuma apabila demi merayakan hari kemenangan, akhirnya orang harus nekat mencoreng hari raya. Orang-orang yang nekat melakukan hal-hal di luar kapasitasnya, untuk menunjukkan pencapaian palsunya, menurut gue nggak pantes merayakan hari lebaran. Mereka yang sibuk untuk terlihat mewah di hari lebaran, gagal meneladani kesederhanaan Rasulullah.

Jadi, gue harap kita nggak lagi heboh menyambut hari raya lebaran dengan bingung ngumpulin uang untuk dihabiskan bersama keluarga. Jangan stress karena di hari raya lebaran, bokek melanda. Jalani semua dengan ikhlas, karena justru pas lebaran itu banyak makanan gratisan. Jadi, ngapain stress karena nggak ada duit pas lebaran? Jangan malu karena belum terlihat sukses seperti teman seumuran lainnya. Malulah kalau kita belum bisa berpikir sedewasa orang-orang yang mampu berbahagia dengan segala kesederhanaannya. 

Demikian uneg-uneg gue menjelang hari raya idul adha. Semoga bisa jadi bahan renungan kita semua. Kita masih muda, kita bisa menciptakan tradisi yang berbeda. Mari rayakan hari suci dengan penuh suka cita, tanpa perlu menebus semua dengan harta.

Jangan malu terlihat miskin. Malulah saat km berpura-pura kaya.

ROTASI

Posted: Juli 30, 2017 in Uncategorized


Katanya bumi itu berputar.. Begitupun kehidupan di dalamnya. Kadang di bawah kadang di puncak. Berteman kawan bermusuh lawan. Dunia membenci. Dunia berpihak. 

Nyatanya bumiku tidak. Begitupun kehidupan di dalamnya. Kadang aku di bawah kadang lebih baik. Dunia membenci. Dunia mendendam. Bermusuh lawan berlawan kawan. 

Aku kabur menuju tempat yang putarannya nyata. Yang lebih adil. Dengan suka dan duka sama besar. Bukan yang penuh peraduan. Namun kini aku di tempat yang tepat. Pergantian malam menjadi pagi, bentangan langit.. meyakinkanku bahwa rotasi bumi memang nyata. Menyadarkanku hal lain. Bahwa keberadaan kita selama ini. Bagaimana dunia. Serta kawan dan lawan yang tidak pernah diam pada satu kondisi.

Sebab seperti bumi. Kehidupan di dalamnya juga berputar. Sekalipun tidak, setiap dari kita mempunyai kemampuan memutarnya sendiri. Dengan mau. Dengan berani. Untuk mengucap kata sederhana yang selalu terasa berat.

Maaf ya. 
*Memainkan: Ungu – Waktu yang Dinanti

Gue yakin, kalian pasti lebih inget orang yang pernah kalian cintai, tapi akhirnya malah menyakiti, dibanding pasangan yang pernah sama-sama  selalu mencintai sampai bosan sendiri.

Kenapa gue bilang gitu? Akhir-akhir ini gue kepikiran, lagu-lagu bertema patah hati itu selalu lebih meledak dibandingkan lagu-lagu yang menceritakan indahnya jatuh cinta. Lagu yang membahas tentang cinta yang terkhianati, lagu yang membahas tentang cinta yang tak terungkapkan, maupun lagu yang membahas tentang cinta yang tak bisa dimiliki, memiliki kekuatan yang lebih “nonjok” dibandingkan lagu-lagu yang membahas tentang hati yang berbunga-bunga.

 

Hal itu beralasan. Orang itu lebih ekspresif saat mereka sedang sakit hati. Orang itu lebih sensitif saat mereka sedang terluka hati. Dan orang itu akan lebih mengingat detil orang yang menyakitinya dibanding orang yang membahagiakannya. Di postingan kali ini, gue mau ngajakin kalian buat melihat cinta, dari sudut pandang berbeda. Iya, cinta itu benar-benar terasa, saat kita tidak sedang memilikinya. Itu yang gue pahami. Dan pemahaman semacam itu, datang dari pengalaman yang pernah gue jalani. Begini ceritanya..

 

Gue inget, beberapa tahun (belasan sih) yang lalu,  gue suka sama seorang cewek adek kelas, bernama Putri. Cewek itu sesekolah sama gue, namun kita tidak seperasaan. Putri ini adalah cewek berwajah adem kejawa-jawaan. Tiap dia ngomong, terasa lembut di hati. Menurut gue, Hitler pun kalo denger dia ngomong, pasti bakal jadi orang yang baik, dan nggak bunuh-bunuhin Yahudi lagi. Rambut Putri berwarna hitam, panjang, lurus sepundak. Kulitnya terlalu putih untuk ukuran cewek Jawa. Bibirnya merah, tanpa lipstick, dan parfumnya tak pernah ganti, Bvlgari Jasmin Noir. Dia nggak pernah ngasih tau merk parfumnya, tapi gue sering merhatiin dia kalo lagi nyemprotin parfum itu ke lehernya. Pertama kali gue ketemu dia adalah saat gue harus ke rental printer pagi-pagi. Kebetulan rental itu ada di dekat kosannya.

 

Kosan Putri ada di belakang sekolah, sedangkan rumah gue jauh dari sekolah. Setiap pagi, gue sengaja berangkat sekolah  15 menit lebih awal, biar bisa bareng dia. Iya, gue harus muterin setengah bangunan sekolah yang ukurannya segede itu, hanya untuk bisa jalan bareng Putri. Tapi Putri tidak tahu kost gue di mana, yang dia tahu, padahal gue tidak ngekos. Iya, 10 menit bareng dia adalah 10 menit terindah dalam hari-hari gue. 10 menit yang mampu membuat gue selalu bisa bangun lebih pagi. 10 menit yang selalu gue pikirin setiap menjelang tidur di malam hari. Apakah setiap pagi jalan kaki mondar-mandir itu melelahkan buat gue? Nggak. Rasa lelah itu tertutup rapat oleh rasa bahagia karena bisa ngobrol dan jalan bareng dia. Gue nggak bisa ngerasa capek untuk mencintai, karena cinta itu memberikan energi tersendiri. Lihatlah hidup orang-orang yang tanpa cinta. Tak ada gairah, tak ada usaha, tak ada tenaga.

 

Kembali kepada topik si Putri. Pernah suatu ketika, gue jalan kaki seperti biasanya, lalu melambatkan langkah saat gue melewati depan kost si Putri.  Gue lihat, pagi itu Putri tak kunjung tiba. Gue nggak bisa nanya Putri di mana, karena gue nggak pernah berani meminta nomor handphonenya. Gue lihat jauh ke depan, Putri juga tak terlihat di ujung jalan sana. Gue sengaja melangkah lebih lambat, agar nanti kalau Putri ternyata memang telat, dia bisa menyusul gue di jalan. Tapi 10 menjelang bel sekolah, gue nggak berpapasan dengan si Putri.  Bahkan sesampainya di ruang kelas, gue juga nggak menemukan si Putri. 

 

Gue tanyain ke Dini, sahabat Putri, ke manakah gerangan dia berada? Dini mengatakan bahwa Putri sedang sakit, demam tinggi membuat Putri sakit jadi dia absen hari itu. Selepas pulang sekolah, gue langsung pergi dari sekolah, lalu mampir ke minimarket sebelah. Gue inget banget, gue adalah orang yang sangat ketat dengan pengaturan finansial. Zaman itu, uang saku gue mepet. Dan hari itu, gue memutuskan untuk memberikan hal yang berguna untuk kesembuhan si Putri. Gue membeli obat penurun panas, dan vitamin , lalu duit gue tinggal tersisa 2 ribu rupiah. Uang sisa segitu, gue buat jaga-jaga.

 

Gue berjalan dengan penuh semangat ke kost si Putri, lalu membayangkan bahwa dia akan sangat bahagia dengan apa yang gue bawa buat dia. Tapi semangat itu memudar seketika bersamaan dengan apa yang gue lihat di teras kostnya. Putri sedang disuapin oleh seorang cowok seumuran kami. Pucatnya, tak menutupi kecantikannya. Serak di tenggorokannya, tak mengurangi kemerduan suaranya, saat bilang “pelan-pelan aja ya..” kepada cowok yang menyuapinya.

 

Pemandangan di depan gue emang sempat membuat gue gentar. Tapi apa yang udah gue bawa, nggak boleh sia-sia. Gue tetap memberanikan diri untuk mendekat, dan menyerahkan obat-obatan yang gue beli untuk dia. Putri terlihat senang dengan apa yang gue bawa. Cowok yang menyuapinya juga mengucapkan terima kasih untuk apa yang gue lakukan untuk dia. Lalu dia memperkenalkan dirinya, namanya Reno, gebetan Putri.

 

Sesaat setelah gue berbasa-basi dan terlihat baik-baik saja, gue segera pamit undur diri dari kost Putri. Gue berjalan kaki menuju parkiran motor, sambil memakan mie instan mentah yang diremukin. Seremuk hati gue yang diremukin fakta bahwa Putri sudah memiliki orang yang dicinta.

 

Setelah kejadian itu, gue jadi manusia yang paling melankolis di dunia. Gue selalu melihat sisi gelap dunia. Ketidakadilan dunia, kekejaman cinta, kehancuran hati gue, semua berlalu lalang di dalam kepala. Segala keceriaan dunia seakan musnah begitu saja. Gue ciptakan puluhan puisi yang menyayat hati, gue ciptakan lagu-lagu yang mampu menyihir hati hingga beku, gue lukis warna-warna mati semati harapan gue untuk memiliki Putri. Itu adalah waktu yang sangat kelam namun tak terlupakan buat gue.

 

Beberapa minggu setelah kejadian itu, gue udah terbiasa berjalan kaki sendirian dari parkiran ke sekolah, tanpa perlu muter melewati kost Putri lagi. Gue nggak marah sama Putri, gue cuma merasa, gue nggak layak memperlakukan hal spesial lagi untuk dia. Karena gue sadar, sudah ada orang lain yang bertanggung jawab atas hal-hal itu untuk dia.

 

Di sekolah, gue bertemu Putri. Senyumnya tidak berbeda, masih seindah biasanya. Senyumnya masih dengan mudah meluruhkan amarah. Tawanya, bisa sekejap menghapuskan segala dendam yang ada.

 

“Wiss!! Jahat banget sih?!” Tanya dia mendadak membuat gue bingung.

 

“Ha? Jahat gimana?”

 

“Pindah kosan kok nggak bilang?” Putri mencubit pipi gue. Bukan sakit yang gue rasakan saat itu. Aneh, yang dicubit itu pipi, tapi kenapa yang terasa nyeri malah hati?

 

“Pindah kosan? Pindah ke mana?” Gue bingung karena gue nggak merasa pindah kost.

 

“Loh? Kamu nggak pindah? Kok kita nggak pernah ketemu di jalan lagi?”

 

Pertanyaan Putri membuat gue terdiam beberapa saat. Bingung untuk menjelaskan bahwa selama ini gue sengaja jalan muter-muter cuma agar bisa jalan kaki bareng dia.

 

“Aku gak pernah ngekos kok, aku berangkat dari rumah terus motorku tak titipin depan sekolah.” Akhirnya kalimat itu tercetus juga.

 

Putri terlihat bengong, dia gigit bibirnya, matanya layu, layaknya kucing lapar yang berharap untuk dilempar ikan kerapu.

 

“Jadi.. Selama ini…” Putri sepertinya sengaja tak menyelesaikan kalimatnya.

 

“Iya.” Gue tersenyum penuh makna, sambil menatap matanya dalam-dalam.

 

Putri lalu duduk di kursi kelasnya, dengan tatapan kosong. Dia melewati hari itu dengan tatapan kosong yang sama.

 

Sepulang sekolah, Putri menghampiri gue. Dengan ramah, dia menepuk pundak gue.

 

“Balik bareng yuk!”

 

“Tapi..” Gue mau bilang, kalo jalan pulang kita nggak searah.

 

“Aku cuma mau kamu bonceng. Hehe.. kalo boleh..”

 

“Baik..”

 

Kita berdua jalan keluar dari sekolah , gue sempetin buat beli cilok buat dimakan berdua sepanjang jalan. Kami mengobrol panjang sambil tertawa-tawa, sampai depan parkiran motor.

 

Di depan kosan, Putri berpamitan.

 

Sejak hari itu, setiap pagi Putri yang menghampiri, dan menunggu gue di depan parkiran. Lalu kita jalan ke sekolah barengan. Itu rute yang lebih wajar, karena setiap Putri sekolah, dia memang melewati parkiran. Dibanding gue yang harus muter ke belakang sekolah dulu, cuma agar bisa jalan kaki bareng dia mulu.

 

Sebulan kemudian, gue dan Putri jadian. Putri mengatakan bahwa dia tidak bisa menerima Reno, karena Reno tidak tinggal di kota yang sama. Putri trauma dengan LDR, dia tidak mau memberi harapan kepada Reno. Saat baru memiliki Putri, adalah saat yang membuat gue sangat bahagia. Akhirnya, segala perjuangan gue sebelumnya, berbuah manis juga.

 

Tapi kebahagiaan itu pelan-pelan memudar. Di mana cinta, berubah menjadi kewajiban, bukan lagi hal yang dijalani dengan ketulusan. Di mana gue harus selalu menuruti permintaan Putri untuk menemani dia pulang-pergi sekolah,  baca-baca buku di perpus, dan nungguin dia perawatan di salon sampe gue bosen mampus.

 

Memiliki Putri ternyata tidak seindah zaman gue belum memilikinya. Zaman di mana karakternya masih dibatasi imajinasi gue aja. Zaman di mana dia belum menunjukkan sisi-sisi gelapnya. Zaman di mana gue nggak dipaksa untuk makan-makanan yang dia baru coba masak, hingga membuat gue 3 hari berak-berak. Gue nggak boleh protes, karena gue nggak boleh mengecewakannya, karena membuat dia selalu bahagia adalah kewajiban. Ah!!

 

Belum lagi sifat posesif dia yang ternyata berbahaya. Di mana, gue ngobrol sama temen sekelas yang cewek aja bisa membuat dia ngambek dan diemin gue seminggu lamanya. Di mana gue harus membiarkan dia mengobok-obok inbox SMS hape gue buat memastikan bahwa gue nggak ngedeketin cewek lain.

 

Gue nggak bisa protes, karena gue cinta. Meskipun gue capek, dan mulai nyadar bahwa cinta yang sudah menjadi kewajiban itu ternyata menyebalkan. Gue harus menerima dia apa adanya. Gue harus selalu berusaha membahagiakan dia. Gue harus bisa menjadi seperti yang dia minta, meski gue nggak nyaman menjalaninya. Melelahkan juga.

 

Gue coba buka-buka lagi puisi, lagu, lukisan, yang pernah gue buat untuk Putri saat gue patah hati olehnya dulu. Di titik itu, gue nyadar. Api asmara itu justru ada di saat kita tidak saling memiliki. Di saat kita hanya melihat indahnya si dia. Di saat kita bisa dengan tulus memaklumi segala kekurangannya. Cinta sejati itu tumbuh dari rasa sakit. Iya, orang yang bisa benar-benar menyakiti kita, cuma orang yang benar-benar kita cinta. Mungkin elo bakal santai aja, kalo lo dicuekin oleh orang yang nggak lo suka. Tapi lo bisa galau berbulan-bulan saat lo dicuekin gebetan, kan?

 

Dan akhirnya, gue dikalahkan oleh rasa bosan. Bosan terhadap segala kekurangan Putri, bosan untuk selalu memakluminya. Iya, waktu itu gue emang belum dewasa dalam mencinta. Akhirnya, kami pun sepakat untuk memutuskan hubungan cinta. Anehnya, beberapa saat setelah kami berpisah, gue kembali bergairah. Rasa cinta kembali tumbuh, rasa rindu kembali menggebu. Gue kembali pengin memperjuangkan cinta si Putri. Maunya hati ini apa sih? Kampret, kan? Karena hati kita kadang sangat pengecut, selalu mencari apa yang membuatnya nyaman saja, tanpa logika. 

Mau diterima atau tidak, begitulah pilihan yang diberikan oleh cinta. Selalu mencintai orang yang tak pernah bisa kita miliki, atau Memiliki orang yang tak kita cintai. Tapi yang jelas, cinta itu adalah yang mampu memberimu energi dan gairah. Cinta itu yang bisa membuatmu selalu gelisah. Cinta itu yang bisa menggerakkan hatimu hingga kamu bisa melakukan hal-hal yang sebelumnya berat untuk dilakukan. Dan saat kamu tak lagi bergairah, tak bersemangat, dan tak tulus lagi berkorban untuk dia, itu adalah tanda bahwa cinta sudah tak bersemayam di sana. 

 

Don’t get in a relationship with the one you don’t love. Sacrificing is hard, if it’s not for the one you love. But it’ll be easy if you do it for the one you really love. Hubungan, baik itu pacaran maupun pernikahan, bukanlah keputusan yang bisa diambil dalam keputusasaan. 


Dan ternyata Putri adalah pacar pertamaku, hingga gue tulis malam ini pun gue masih sendiri sejak saat itu. Semoga bahagia Put, kupuisikan namamu kusimpan dalam kenangan. 


This is my story. How about yours?

3 Kualitas Lak-laki yang Mahal

Posted: Mei 8, 2017 in Ceritaku
img_1716

Gambar 1. Pamer keromantisan di jalanan Peneleh, Surabaya

Beeeeghhh… berat banget bahasannya.

Laki-laki yang mahal tentu saja dilihat dari sudut pandang wanita. Oke langsung saja.

  1. lembut dalam cintanya

Di awal hubungan laki-laki pasti merasa belum sesuai dengan pasangannya. Dia menganggap sang wanita testing, yaitu menguji kemarahannya dan tasking, yaitu membebaninya.  Tetapi laki-laki ini bersabar terhadap segala tingkah laku wanitanya seperti salah tapi malah menyalahkan, kemauannya tidak jelas, tidak bicara tapi mengharuskan sang laki-laki mengerti. Laki-laki yang lembut berarti sabar pada sifat wanita yang sebetulnya ngeselin dia. Tidak hanya cinta polosan yaitu saat marah keluar marah, cemburu keluar cemburu. Semua dikelola dalam bentuk kelembutan. Kelembutannya tersebut hasil dari penerimaan sifat wanita dan sabar karena dia tahu bahwa wanita tersebut penting dalam kehidupan dan masa depannya. Karena pada akhirnya dalam semua hubungan pasti akan saling menyesuaikan diri.

  1. Setia dalam kehidupan yang sibuk

Laki-laki yang setia, apabila dia hanya berdiam dan selalu bersama dengan  wanitanya berari itu hal yang wajar. Akan tetapi saat dia mampu setia dalam kehidupan yang sibuk, ketemu dengan berbagai wanita mulai dari A sampai dengan Z berarti  laki-laki seperti ini mahal sekali. Sibuk bekerja baik di dalam kota maupun sampai luar negeri tapi masih setia dan memuliakan wanitanya. Dalam kehidupan yang sibuk namun masih setia tersebut pastilah tidak mungkin tanpa hasil. Pasti kesibukannya menjadikannya lebih ahli, dibutuhkan, dibayar mahal dan dihormati karena dia tahu semuanya demi pasangannya. Banyak orang yang tidak melihat hubungan kesetiaan dalam hidup yang sibuk menjadikan kehidupan keluarganya sejahtera.

  1. Memperlakukan wanitanya sebagai harta termahalnya.

Bayangkan jika sudah berjuang, bertarung, bersaing dalam kesibukannya tapi wanitanya tetap dijaga hati-hati seperti memperlakukan harta termahalnya. Wanitanya dijaga dan di-eman agar tetap cantik dan mulia. Apapun yang dilakukannya hanya untuk pasangannya. Saat dia berhasil dan dipuji dalam kesuksesan, dia mengatakan hal tersebut karena wanitanya. Laki-laki seperti ini menjadikan wanitanya lebih penting bahkan dibanding dirinya sendiri.

Laki-laki yang mahal itu mahal bagi wanita, otomatis mejadi laki-laki yang terhormat bagi laki-laki lain karena dia lembut dalam cintanya. Kemudian dia sibuk memuliakan wanitanya dalam kehidupan yang menghasilkan, tetap setia walaupun bertemu banyak wanita lain dan memperlakukan wanitanya sebagai harta termahalnya. Apapun yang dilakukannya tidak lebih mahal daripada wanita ini.

Yup, pesan ketiga poin diatas bukan 100% dari dariku. Itu adalah rangkuman nasehat dari seorang bapak-bapak paruh baya, sedikit gemuk dan masih menapak bumi tentunya, beberapa tahun silam buat saya pribadi agar menjadi laki-laki yang lebih baik. This my story, how about yours?